📖 SPK CBR · DIAGNOSIS NON-KOGNITIF BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA SMPN 3 MALANG

📝 Motivasi Belajar Bahasa Indonesia · Kepercayaan Diri · Kecemasan Berbahasa · Minat Bahasa · Sikap Berbahasa · Kerja Kelompok · Berpikir Kritis · Dukungan Orang Tua · Literasi · Kemampuan Berkomunikasi
📅 Hari, Tanggal Bulan Tahun

🔍 Parameter Diagnostik Non-Kognitif Belajar Bahasa Indonesia (10)

Parameter: 0/10 dipilih Identitas: 0/5 terisi ⏳ Lengkapi data untuk melihat rekomendasi
⚠️ Silakan lengkapi semua identitas dan pilih semua parameter (Ya/Tidak) untuk melihat rekomendasi.

📤 Sinkronisasi Basis Pengetahuan dan Rekap

📊 Export XLS (Rekap Kasus)

📋 Basis Pengetahuan · Kasus Non-Kognitif Belajar Bahasa Indonesia

📖 Sintesa Solusi per Kasus

Berikut adalah penjelasan rinci mengenai sintesa solusi untuk setiap kasus non-kognitif belajar Bahasa Indonesia, dilengkapi dengan referensi ilmiah yang menjadi landasan teoritisnya.

📚 Daftar Referensi Lengkap

🧠 Case-Based Reasoning (CBR)

Apa itu CBR?

Case-Based Reasoning (CBR) adalah pendekatan dalam kecerdasan buatan yang menyelesaikan masalah baru dengan mencari solusi dari kasus-kasus lama yang serupa. Sistem ini menyimpan basis pengetahuan berupa kasus-kasus sebelumnya, kemudian ketika ada masalah baru, sistem akan:

  1. Mencari kasus yang paling mirip dengan masalah baru
  2. Mengadaptasi solusi dari kasus tersebut
  3. Memberikan rekomendasi solusi
💡 Pada sistem ini: CBR digunakan untuk mendiagnosis kondisi non-kognitif siswa dalam belajar Bahasa Indonesia. Sistem membandingkan jawaban siswa (10 parameter) dengan 40 kasus yang sudah ada, lalu memberikan rekomendasi solusi berdasarkan kasus dengan tingkat kemiripan tertinggi.

Metode Similaritas: Tversky

Sistem ini menggunakan rumus Similaritas Tversky untuk mengukur tingkat kemiripan antara kasus baru dengan kasus lama:

S(A,B) = C / (C + α·A_only + β·B_only)
  • C = Jumlah parameter yang bernilai "Ya" pada kedua kasus (kesamaan)
  • A_only = Jumlah parameter yang bernilai "Ya" hanya pada kasus baru
  • B_only = Jumlah parameter yang bernilai "Ya" hanya pada kasus lama
  • α = 0.5 dan β = 0.5 (bobot preferensi)

Semakin tinggi nilai Similaritas (mendekati 1), semakin mirip kasus tersebut dengan kondisi siswa.

Contoh Langkah Penggunaan (1)

📌 Skenario: Seorang siswa mengisi asesmen dengan parameter:

  • P1: Ya, P2: Tidak, P3: Tidak, P4: Ya, P5: Tidak, P6: Tidak, P7: Tidak, P8: Tidak, P9: Tidak, P10: Ya

⚙️ Proses:

  1. Sistem membandingkan vektor siswa dengan 40 kasus menggunakan rumus Tversky.
  2. Ditemukan Kasus #2 memiliki similarity tertinggi (85%).
  3. Sistem menampilkan solusi dari Kasus #2: "Motivasi + minat: gunakan bacaan sesuai minat siswa, menulis cerita, dan studi sastra".

✅ Hasil: Guru menerima rekomendasi dan menerapkannya dalam pembelajaran.

Contoh Langkah Penggunaan (2)

📌 Skenario: Seorang siswa mengisi asesmen dengan parameter:

  • P1: Tidak, P2: Tidak, P3: Ya, P4: Tidak, P5: Tidak, P6: Tidak, P7: Tidak, P8: Tidak, P9: Tidak, P10: Tidak

⚙️ Proses:

  1. Sistem membandingkan vektor siswa dengan 40 kasus menggunakan rumus Tversky.
  2. Ditemukan Kasus #6 memiliki similarity tertinggi (78%) dan Kasus #11 (72%) sebagai alternatif.
  3. Sistem menampilkan solusi dari Kasus #6: "Tingkatkan kepercayaan diri: beri tugas menulis bertahap, pujian spesifik, dan latihan membaca nyaring".
  4. Guru dapat melihat 5 kasus teratas beserta similarity-nya.

✅ Hasil: Guru memilih rekomendasi dari Kasus #6 karena paling sesuai dengan kondisi siswa.

💡 Sistem menampilkan 5 kasus teratas sehingga guru memiliki alternatif solusi.

Keunggulan CBR pada Sistem Ini

  • Adaptif: Solusi disesuaikan dengan kasus yang paling mirip
  • Transparan: Guru dapat melihat kasus mana yang digunakan sebagai acuan
  • Akumulatif: Basis pengetahuan dapat terus bertambah seiring waktu
  • Kontekstual: Mempertimbangkan kombinasi parameter secara holistik

📌 Hasil Diagnosis Non-Kognitif Belajar Bahasa Indonesia (Top 5 Similaritas)

← Lengkapi data (identitas & parameter) untuk melihat rekomendasi
Rekomendasi akan muncul setelah semua data lengkap