Bentuk angka yang kita kenal sekarang tentu berbeda dengan bentuknya pada zaman dulu. Dalam sistem angka Romawi yang menggunakan huruf—seperti I, II, III, IV, V, dan seterusnya—kita tidak akan menemukan angka nol.
Angka-angka modern sejatinya merupakan modifikasi dari angka Arab yang didasarkan pada jumlah sudut. Misalnya, angka nol tidak memiliki sudut, angka 1 memiliki satu sudut, angka 2 memiliki dua sudut, dan seterusnya.
Beratus-ratus tahun silam, manusia hanya mengenal sembilan bilangan, yaitu 1 sampai 9. Selama masa itu, angka nol belum dikenal. Nol muncul paling akhir, sebagai bilangan yang menyatakan ketiadaan.
Menurut penjelasan dari akun TikTok @praharasemesta dan beberapa sumber lain, angka nol sebenarnya telah dikenal dan digunakan oleh bangsa Babilonia yang tinggal di Lembah Mesopotamia sekitar tahun 300 SM. Mereka awalnya menggunakan simbol dua garis miring untuk menandai kolom kosong, guna membedakan puluhan, ratusan, dan ribuan. Namun, meskipun sudah mengenal nol, mereka belum mempelajari sifat-sifatnya, sehingga angka nol saat itu belum memiliki nilai numerik yang berdiri sendiri.
Enam ratus tahun kemudian, angka nol muncul kembali dalam peradaban Bangsa Maya yang berjarak sangat jauh dari Babilonia. Bangsa yang hidup di Benua Amerika ini mengembangkan angka nol untuk sistem perhitungan kalender mereka. Nol dilambangkan dengan simbol mata. Uniknya, meskipun mereka terkenal pandai dalam matematika, angka nol tidak digunakan untuk menghitung persamaan.

Konsep angka nol baru benar-benar berkembang di India sekitar tahun 458 M. Menariknya, konsep ini pertama kali muncul dalam bentuk pengucapan—ada dalam persamaan matematika, puisi, atau nyanyian. Dalam bahasa Sanskerta, nol disebut sunya dan disimbolkan dengan beberapa kata seperti “ruang”, “hampa”, atau “angkasa”.
Pada tahun 628 M, seorang astronom sekaligus matematikawan bernama Brahmagupta mengembangkan sifat-sifat khusus untuk nol. Ia menunjukkan bahwa angka nol dapat berfungsi untuk memisahkan bilangan positif dan negatif. Brahmagupta juga mengembangkan operasi matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dengan melibatkan angka nol. Dari sinilah kita tahu bahwa 2 + (-2) = 0. Pada masa itu, orang India menulis angka nol sebagai sebuah titik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, angka nol memiliki nilai yang mandiri.
Selanjutnya, angka nol dari India menyebar ke China dan Timur Tengah. Pada tahun 773 M, nol mulai populer dan diadopsi di Baghdad. Bangsa Arab menyebut lingkaran kecil ini sebagai sifr, yang berarti “kosong”, dan tetap melambangkannya dengan titik.
Seorang matematikawan Persia, Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, menyarankan agar lingkaran kecil digunakan dalam perhitungan jika tidak ada angka pada posisi puluhan. Berkat karyanya di Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), nol menjadi semakin penting. Al-Khawarizmi pun menggunakannya untuk menciptakan teori aljabar pada abad ke-9. Ia juga mengembangkan metode perkalian dan pembagian yang kemudian dikenal sebagai algoritma.
Angka nol tiba di Eropa sekitar abad ke-12, dibawa oleh bangsa Moor Muslim dari Maroko saat menaklukkan Andalusia. Namun, nol tidak langsung diterima. Sebagian orang Eropa menganggap nol (atau sifr) sebagai angka setan atau kode yang membahayakan negara. Bahkan pemerintah Italia sempat melarang penggunaan angka yang berasal dari India-Arab ini.
Untungnya, matematikawan Italia bernama Leonardo Fibonacci menciptakan deret Fibonacci yang melibatkan angka nol. Teori ini kemudian populer dan membantu para pedagang dalam menyusun pembukuan. Meskipun harus digunakan secara diam-diam, angka nol tetap bertahan di Eropa. Nama sifr pun berubah menjadi cipher, yang berarti “sandi” atau “kode”.
Barulah pada tahun 1600-an, angka nol dapat digunakan secara bebas dan luas di seluruh Eropa. Ilmuwan seperti René Descartes menciptakan sistem koordinat Cartesian. Isaac Newton dan Gottfried Wilhelm Leibniz berhasil mengembangkan kalkulus. Kalkulus pada gilirannya membuka jalan bagi kemajuan fisika, teknik, komputer, serta teori keuangan dan ekonomi. Sejak saat itu, angka nol menyebar ke seluruh penjuru dunia dan melekat erat dalam perhitungan manusia hingga hari ini.(MGMP Matematika)

Susetyaningtyas Rasdianto
Terima kasih si ciput pengetahuannya..